Ideologi Pendidikan

Ideologi dalam pendidikan dapat diartikan sebagai seperangkat aturan yang diyakini dan dijadikan landasan bagi pendidikan dalam rangka mencapai tujuan. Terdapat beberapa idelogi dalam pendidikan, yaitu radikal, konservatif, liberal, humanis, progresif, sosialis dan demokrasi.

  1. Ideologi Radikal

Menurut The Concise Oxford Dictionary (1987), istilah radikal berarti ‘akar’, ‘sumber’, atau ‘asal-mula’. Dimaknai lebih luas, istilah radikal mengacu pada hal-hal mendasar, prinsip-prinsip fundamental, pokok soal, dan esensial atas bermacam gejala, atau juga bisa bermakna “tidak biasanya” (unconventional). Menurut ideologi ini, manusia harus berjuang dalam hidupnya untuk mengatasi belenggu masyarakatnya (pada hakikatnya, manusia itu baik, tetapi masyarakat yang membuatnya menjadi jelek). Ideologi radikal/kritis menghendaki perubahan struktur secara fundamental dalam politik ekonomi di mana pendidikan itu berada. Pendidikan dipandang sebagai refleksi kritis terhadap “the dominant ideology” yang dapat membawa kepada transformasi sosial.

  1. Ideologi Konservatif

Ideologi konservatif mempercayai bahwa nilai tertinggi adalah perujudan diri dan bisa dicapai dengan cara mengidentifikasikan dan menaati hukum alam dan atau ketuhanan.
Ideologi konservatif diklasifikasikan menjadi tiga tradisi utama, yaitu fundamentalisme, intelektualisme, dan konservatisme pendidikan. Dalam hal pendidikan, kaum konservatif menganggap bahwa sasaran utama sekolah adalah pelestarian dan penerusan struktur dan sistem sosial serta pola-pola berikut tradisi-tradisi yang sudah mapan. Di samping itu, metoda pengajaran dan penilaian hasil belajar ditekankan pada tata cara pengajaran dalam kelas yang tradisional,  misalnya ceramah, hapalan, serta diskusi kelompok yang terstruktur secara ketat. Ulangan/tes sesudah pembelajaran diberikan merupakan cara terbaik untuk memapankan kebiasaan. Pembelajaran terbaik ditentukan dan diarahkan oleh guru, sebab siswa tidak cukup tercerahkan untuk mengarahkan proses perkembangan intelektualnya sendiri.

  1. Ideologi Liberal

Ideologi pendidikan liberal adalah suatu keyakinan dimana pendidikan yang terbaik adalah yang ada untuk melatih anak agar berfikir secara kritis dan objektif, mengikuti bentuk dasar proses ilmiah, dan melatih anak untuk meyakini hal-hal tersebut berdasarkan pengetahuan ilmiah.

Ideologi Liberal meyakini bahwa ketercapaian perujudan diri tergantung dari manusia itu sendiri sebagai faktor utama dan merupakan sumber segala jenis pengetahuan.
Ideologi ini meliputi liberalisme, liberasionisme, dan anarkisme pendidikan. Ideologi pendidikan liberal bertujuan untuk melestarikan dan memperbaiki tatanan sosial yang ada, dengan cara membelajarkan setiap siswa sebagaimana caranya menghadapi persoalan-persoalan dalam kehidupannya sendiri secara efektif. Ciri-ciri ideologi ini dalam pendidikan di antaranya adalah sebagai berikut:

  1. Menganggap bahwa pengetahuan terutama berfungsi sebagai sebuah alat untuk digunakan dalam pemecahan masalah secara praktis.
  2. Menekankan kepribadian unik dalam diri tiap individu.
  3. Menekankan pemikiran efektif (kecerdasan praktis)
  4. Memandang pendidikan sebagai perkembangan dari keefektifan personal.
  5. Memusatkan perhatian kepada tata cara pemecahan masalah secara individual maupun berkelompok.
  6. Menekankan perubahan sosial secara tak langsung, melalui perkembangan kemampuan tiap orang berprilaku praktis dan efektif.
  7. Berdasarkan kepada sebuah sistem penyelidikan eksperimental yang terbuka.
  8. Didirikan di atas tata cara pembuktian secara ilmiah rasional.
  9. Menganggap bahwa wewenang intelektual tertinggi terletak pada pengetahuan yang diperoleh dari pembuktian eksperimental.
  1. Ideologi Humanis

Aliran humanistik muncul pada pertengahan abad 20 sebagai reaksi teori psikodinamika dan behavioristik. Salah satu tokoh aliran humanistik terkenal adalah Abraham Harold Maslow (1908-1970). Maslow dikenal sebagai pelopor aliran psikologi humanistik. Maslow percaya bahwa manusia tergerak untuk memahami dan menerima dirinya sebisa mungkin. Teorinya yang sangat terkenal sampai dengan hari ini adalah teori tentang Hierarchy of Need (Hirarki Kebutuhan). Maslow menggunakan piramida sebagai peraga untuk memvisualisasi gagasannya mengenai teori hirarki kebutuhan.

Dalam teori hirarki kebutuhan, Maslow menyebutkan ada lima jenis kebutuhan dasar manusia secara berjenjang dan bertingkat mulai dari yang paling rendah (bersifat dasar/fisiologis) sampai yang paling tinggi (aktualisasi diri). Pada tingkat paling bawah terletak kebutuhankebutuhan fisiologis (physiological needs), tingkat kedua terdapat kebutuhan akan rasa aman dan perlindungan (need for self-security and security), tingkat ketiga mencerminkan kebutuhan yang digolongkan dalam kelompok kasih sayang (need for love and belongingness), tingkat keempat mencerminkan kebutuhan atas penghargaan diri (need for self-system), sedangkan tingkat kelima adalah kebutuhan aktualisasi diri (need for self actualization) Kebutuhan-kebutuhan itu merupakan inti kodrat manusia, sebagaimana kebutuhan peserta didik juga tidak jauh berbeda dengan kebutuhan manusia pada umumnya. Oleh karena itu dalam proses pembelajaran, guru harus mengenal dan memahami jenis dan tingkat kebutuhan peserta didiknya, sehingga dapat membantu dan memenuhi kebutuhan-kebutuhan berbagai aktivitas kependidikan, terutama aktivitas pembelajaran. Dengan mengenal kebutuhan-kebutuhan peserta didik, guru dapat memberikan pelajaran setepat mungkin sesuai dengan kebutuhan peserta didiknya. Dalam konteks humanisme, pendidik harus mendorong peserta didiknya untuk mencapai keberhasilan dan prestasi yang tinggi, serta memberikan penghargaan atas prestasi yang tinggi, memberikan penghargaan atas prestasi yang mereka capai, betapapun kecilnya, baik berupa ungkapan verbal maupun melalui ungkapan nonverbal.

Pendekatan humanistik menganggap peserta didik sebagai a whole person atau orang sebagai suatu kesatuan. Dengan kata lain, pembelajaran tidak hanya mengajarkan materi atau bahan ajar yang menjadi sasaran, tetapi juga membantu peserta didik mengembangkan diri mereka sebagai manusia.

Aplikasi teori humanistik lebih menunjuk pada ruh atau spirit selama proses pembelajaran yang mewarnai metode-metode yang diterapkan. Peran guru dalam pembelajaran humanistik adalah menjadi fasilitator bagi para peserta didik sedangkan guru memberikan motivasi, kesadaran mengenai makna belajar dalam kehidupan peserta didik. Guru memfasilitasi pengalaman belajar kepada peserta didik dan mendampingi peserta didik untuk memperoleh tujuan pembelajaran.

  1. Ideologi Progresif

Dalam pandangan Progresivisme, manusia harus selalu maju (progress) bertindak konstruktif, inovatif, reformatif, aktif dan dinamis. Pencetus aliran filsafat Progresivisme yang populer adalah Jhon Dewey. Aliran filsafat Progresivisme bermuara pada aliran filsafat pragmativisme yang diperkenalkan oleh William James dan Jhon dewey yang menitik beratkan pada manfaat praktis.

Dalam dunia pendidikan progresivisme telah memberikan sumbangan yang besar, aliran ini telah meletakkan dasar-dasar kemerdekaan dan kebebasan kepada peserta didik. Peserta didik diberikan kebebasan baik secara fisik maupun cara berpikir, untuk mengembangkan bakat dan kemampuan yang terpendam dalam diri peserta didik tanpa terhambat oleh rintangan yang dibuat oleh orang lain. Oleh karena itu progresivisme tidak menyetujui pendidikan yang bersifat otoriter. Dalam kurikulum pendidikan aliran progresivisme ini menghendaki lembaga pendidikan memiliki kurikulum yang bersifat fleksibel, dinamis, tidak kaku, tidak terkait dengan doktrin-doktrin tertentu, bersifat terbuka, memilki relevansi dengan prinsip-prinsip pengembangan kurikulum pendidikan.

 

Progresivisme merupakan aliran filsafat pendidikan modern yang menghendaki adanya perubahan pelaksanaan pendidikan menjadi lebih maju. Aliran progresivisme ini mengutamakan penyelenggaraan pendidikan di sekolah berpusat pada anak dan menjadikan pendidik hanya sebatas sebagai fasilitaor, pembimbing, dan pengarah bagi peserta didik. Adapun tujuan dari aliran progresivisme dalam pendidikan ialah ingin merubah praktik pendidikan yang selama ini terkesan otiriter menjadi demokratis dan lebih menghargai potensi dan kemampuan anak, serta mendorong untuk dilaksanakannya pembelajaran yang lebih banyak melibatkan peserta didik.

  1. Ideologi Sosialis

Ideologi sosialis mengarahkan pendidikan sebagai wujud kebebasan individu yang menghapuskan dominasi guru dan pemilik modal yang memegang kendali pendidikan. Tujuan yang hendak dicapai adalah pembentukan sistem pendidikan yang humanis berkeadilan serta pembelajaran yang lebih terbuka antara guru dan peserta didik.

  1. Ideologi Demokrasi

Pendidikan demokratis merupakan pembelajaran yang dibangun untuk mewujudkan lingkungan yang kritis dan aman, menghidupkan dialog, dan keikusertaan seluruh pihak. Pendidikan dengan ideologi demokratis mencerminkan komitmen terhadap tujuan, yakni tiap-tiap individu merasa diterima, termotivasi untuk mengembangkan diri. Pendidikan juga memberikan penghargaan kepada setiap peserta didik. Penghargaan ini diwujudkan dalam bentuk bantuan kepada peserta didik memahami tujuan dan mencapai sasaran, swakontrol, dan kerja sama antarpeserta didik. Peran guru ialah menumbuhkan semangat kerja sama, nilai-nilai yang disepakati bersama, dan kehidupan komunitas belajar yang didasarkan pada pembelajaran autentik.

http://slot.piipers.hemsida.eu/ http://slot-game.piipers.hemsida.eu/ https://publications.thapar.edu/plugins/slot88/ https://philparsons.co.uk/ https://omatsuri.co.jp/ http://room.eco.ku.ac.th/images/slot-deposit-pulsa/ https://chair.rmu.ac.th/media/images/link-gacor/ https://exams2.mehe.gov.lb/ https://mobileapp.iom.int/ https://uts.com.pk/slot-gacor-online/ https://devinscricao.uniritter.edu.br/ https://ilxl.ecs.fullerton.edu/wp-includes/ https://librarydirectory.dpi.wi.gov/ https://mctrans.ce.ufl.edu/wp-includes/assets/slot-gacor/ https://weatheraidev-trafficmanager.accuweather.com/ https://engineering.news.com.au/ https://weddinglovely.com/ http://situs-slot.piipers.hemsida.eu/ https://cmder.net/ http://judi-slot.piipers.hemsida.eu/ https://onokumus.com/ http://mycollab.com/ http://pg-slot.piipers.hemsida.eu/ http://slot-pulsa.piipers.hemsida.eu/ http://judi-slot-online.piipers.hemsida.eu/ https://mctrans.ce.ufl.edu/wp-includes/sitemaps/ http://judi-online.piipers.hemsida.eu/ https://shibboleth.csustan.edu/ http://slot-terpercaya.piipers.hemsida.eu/ http://slot-pragmatic.piipers.hemsida.eu/ http://data.withinwindows.com/ http://implbits.com/ http://ciudadanointeligente.org/ http://bocabit.elcomerciodigital.com/ https://onlineprd.uncg.edu/ https://piipers.hemsida.eu/ http://tesismapantropologia.izt.uam.mx/images/-/slot-gacor/ http://geografiahumana.izt.uam.mx/wp-includes/images/-/slot-gacor/ https://mctrans.ce.ufl.edu/wp-content/uploads/2022/slot-demo/ http://economiafinanciera.izt.uam.mx/wp-includes/sitemaps/-/situs-slot-online/ http://imaginariosyrepresentaciones.izt.uam.mx/wp-includes/images/media/slot-terbaik/ http://moeduniv.izt.uam.mx/wp-includes/Requests/slot/ http://www.coloquiodeadministracion.izt.uam.mx/wp-includes/css/slot-online/ http://slot-gacor.piipers.hemsida.eu/ https://ulakumina.unilever.com/ http://chipmeup.pokernews.com/ https://duedex.com/ https://vtuber.damonge.com/ http://pragmatic.piipers.hemsida.eu/ https://srollins.cs.usfca.edu/ https://vp.becode.org/ https://spotspot.wstone.io/ https://changelog.itrackbites.com/ http://2016.gopherconbr.org/ "http://situs-slot-online.piipers.hemsida.eu/ http://docs.aptana.com/ https://data.hudson.com/ http://schdt2.microsoft.com/ http://schom2.microsoft.com/ https://magento234.webkul.com/