Essai

Korean Style dan Imperialisme Budaya

Oleh: Minrahadi Lubis

“…Hei pemuda dan pemudi, engkau tentunya sangat menentang imperialisme ekonomi, engkau juga menentang imperialisme politik, tetapi kenapa kalian bergaya ke-barat-barat-an padahal itu adalah imperialisme budaya..”

Kalimat di atas adalah peringatan Presiden Soekarno untuk para pemuda yang pada masanya telah diracuni oleh budaya barat, memang pada saat itu Western Style menjadi tren yang begitu populer di kalangan muda-mudi, baik yang terpelajar maupun tidak, namun pada saat sekarang Western Style sudah tidak begitu populer. Mulai mrosotnya Westren Style bukan berarti masyarakat kita sadar bahwa Western Style itu adalah imperialisme budaya, akan tetapi ada tren baru yang segera menggantikan posisi Western Style yaitu Korean Style.

Western Style sebagaimana bisa kita cermati baik itu dari segi aliran musik dan gaya penganutnya menunjukkan kepribadian yang keras, bebas dan tidak mau diatur. Memang itulah yang ingin mereka tunjukkan.Itu semua bisa kita lihat dari style-style mereka yang kemudian dijadikan sebagai symbol perlawanan, symbol anti terhadap otoritas dan peraturan. Sedangkan tren baru yang mulai menggantikan serta menenggelamkan Western Style sebagai tren lama saya melihat mempunyai karakter yang sebaliknya, yaitu lebih bersifat melankolis, begitulah Korean Style. Sifat ke-melankolis-an budaya korea bisa dicermati dari aliran cerita yang terdapat dalam drama-drama korea. Budaya korea memasuki Indonesia dari berbagai sektor. Baikitu industri musik, industri perfileman dan bahkan industri pakaian. Itu artinya budaya Korea telah menguasai beberapa sektor yang cukup sentral di Negara kita.

Masuknya budaya-budaya asings eperti budaya korea ke Indonesia bukan tanpa konsekuensi. Konsekuensi-konsekuensinya begitu beragam, dan dari konskuensi-konsekuensi tersebut saya tidak atau belum melihat adanya konsekuensi yang positif. Mulai dari hilangnya rasa cinta masyarakat kita terhadap budaya bangsanya sendiri sampai kepada krisis identitas bangsa. Namun Robandi selaku Kontributor di Lembaga Kajian Filsafat Sosial (LeKFiS) beranggapan bahwa masuknya budaya Korea ke Indonesia membawa dampak yang positif. Dengan masuknya budaya Korea atau Korean Style ke Indonesia maka masyarakat atau muda-mudi kita menjadil ebih kreatif dalam mempercantik diri. Bahkan Robandi melanjutkan bahwa penlabelan “ImperialismeBudaya” terhadap budaya-budaya asing seperti budaya korea adalah penlabelan yang tidak tepat, lebih baik penlabelan yang sepeti itu dibuang dan diganti dengan “Silaturrahmi Budaya”.

Menurut saya Robandi terjebak pada cara pandang masyarakat terjajah, dimana dia menempatkan budaya asing mampu mempercantik diri masyarakat kita sedangkan budaya kita sendiri tidak mampu melakukan hal yang sama. Itu artinya secara implisit Robandi beranggapan bahwa masyarakat kita dengan budayanya adalah masyarakat yang tidak cantik. Istilah “Silaturrahmi Budaya” dari Robandi bagi saya adalah istilah yang cukupg anjil, sebab budaya-budaya asing yang masuk ke Indonesia bukanlah sebagai tamu tetapi sebagai tuan yang mendominasi budaya pribumi. Lagi pula dengan merubah istilah “Imperialisme Budaya” kepada “Silaturrahmi Budaya” tidak akan merubah fakta bahwa “budaya asing telah mendominasi Indonesia”, sama halnya dengan merubah istilah “Buruh” dengan istilah “Pejabat Publik”-seperti yang dilakukan oleh Kanda Jamora Ghani Nasution-tidak akan merubah fakta bahwa mereka yang digelari dengan istilah tersebut pada setiap harinya selalu berhadapan dengan palu, cangkul dll. Sejauh yang saya ketahui tidak ada silaturrahmi dimana sang-Tamu mendominasi rumah sang-Tuan.

Memang telah menjadi penyakit bangsa kita untuk selalu meniru dan mengagung-agungkan budaya bangsa lain dengan menempatkan budaya asing di atas kepalanya dan sekaligus menempatkan budaya bangsanya sendiri di bawah kakinya. Penyakit ini jika dipandang dari segi Psikoanalisa adalah sesuatu yang diwariskan kepada kita oleh generasi-generasi sebelumnya, sebagaimana Freud mengatakan “kondisi kejiwaan suatu masyarakat akan selalu diwariskan kepada generasi-generasi selanjutnya”. Siapakah mereka yang telah mewariskan kondisi psikis yang terrepresif itu kepada kita? Jawabannya adalah mereka yang pernah menjadi korban penjajahan bangsa asing dan memakan waktu berabad-abad lamanya. Bangsa penjajah menyebut kita sebagai bangsa yang lemah, bangsa yang tidak berbudaya, bangsa yang hina lagi bodoh dan ejekan-ejekan seperti ini terus dilontarkan oleh pemerintah kolonial sehingga merasuk ke alam bawah sadar masyarakat kita dan akhirnya masyarakat kita meyakini bahwa ejekan-ejekan pemerintah colonial tersebut benar adanya.

Usaha untuk menghilangkan aspek represifitas dari psikis masyarakat kita pernah dilakukan Bung Karno dengan mengajak masyarakat kita untuk melihat kejayaan bangsanya di masa lalu, inilah yang disebut sebagai romantisme sejarah. Tidak selamanya romantisme sejarah berkonotasi negatif dalam artian untuk menidurkan masyarakat dan berpuas diri dengan kejayaan bangsanya di masa lalu, itu terbukti dari kesuksesan Bung Karno untuk merubah mental masyarakat yang pada awalnya dianggap sebagai bangsa yang lemah kemudian berubah menjadi bangsa yang cukup beringas untuk menumbangkan kolonialisme Belanda. Namun represifitas yang dialami oleh masyarakat kita tidak sepenuhnya tercerabut dari kondisi psikis mereka. Represifitas itu masih meninggalkan sisa-sisa yang kemudian diwariskan kepada generasi-generasi penerus. Itu terbukti sampai saat ini masyarakat kita tidak pernah percaya diri dengan semua yang dia miliki.

Imperialisme Budaya, Pluralisme dan Krisis Identitas

Para pembaca yang telah akrab dengan wacana Post-modernisme tidak akan asing lagi dengan istilah Krisis Identitas. Ada tiga kata kunci dalam wacana Post-Modernisme yaitu Pluralisme, kematian subjek dan hilangnya pertentangan Binair atau krisis identitas. Suatu teks atau simbol yang diproduksi oleh author disebut tidak mempunyai identitas ketika teks atau simbol tersebut bisa dimaknai dengan apa saja. Mengatakan suatu teks bisa dimaknai dengan apa saja sama artinya dengan mengatakan teks tersebut tidak bermakna sama sekali.

Krisis identitas yang terjadi pada teks atau simbol juga terjadi pada bangsa. Suatu bangsa yang mengadopsi budaya dari berbagai bangsa-tanpa terkecuali budaya korea-bisa dikatakan tidak berbudaya sama sekali. Jika budaya adalah identitas suatu bangsa maka bangsa yang tidak berbudaya adalah bangsa yang tidak mempunyai identitas. Krisis identitas, baik itu yang terjadi pada teks maupun bangsa, selain ia menjadi kata kunci dari wacana Post-Modernisme ia juga menjadi konsekuensi dari wacana Post-Modernisme itu sendiri yang dengan pluralismenya menjadikan bangsa-bangsa khususnya Indonesia sebagai sasaran empuk imperialisme budaya. Itu artinya pluralisme dengan menjadikan pluralitas sebagai kedok secara tidak langsung melegitimasi imperialisme budaya, sebab pluralisme akan mengatakan bahwa Korean Style sebagai Imperialisme budaya adalah bagian dari pluralitas yang mesti dihargai.

Maraknya kajian tentang pluralisme di negara kita seiring dengan redupnya kajian Nasionalisme. Saya melihat pluralisme dan nasionalisme dalam satu sisi memang mempunyai kesamaan akan tetapi dalam banyak sisi keduanya bertentangan. Kesamaan keduanya adalah sama-sama mempunyai unsur untuk memberangus intoleransi, jika itu terlalu utopis maka setidaknya kedua-duanya mempunyai unsur untuk meminimalisir intoleransi. Nasionalisme kita di dalam dirinya mempunyai dua unsur yang begitu unik, di satu sisi ia menegaskan Humanity (kemanusiaan), di sisi lain ia tegas menyatakan sikap sebagai anti-Kolonialisme dan Imperialisme. Di satu sisi ia toleransi dan ingin bersahabat dengan semua bangsa namun di sisi lain dia mengcounter segala jenis Imperialisme. Inilah yang tidak dimiliki oleh pluralisme yang diklaim oleh penganutnya sebagai bagian dari ajaran Islam. Di akhir tulisan ini saya ingin mengutip perkatan Nurcholish Madjid selaku tokoh pluralis di Indonesia, dia pernah mengatakan “Islam itu rasional tapi bukan Rasionalisme”. Ingin sekali rasanya saya mengucapkan kata-kata yang hampir sama di depan wajahnya “Islam itu toleran tapi bukan Pluralisme” namun sungguh disayangkan dia telah mendahului saya ke alam baka.