Opini

Mario Teguh “Sang Filsuf”?

Oleh: Minrahadi Lubis

Ketika saya mengikuti mata kuliah Kritik Ideologi yang diampu oleh bapak Novian Wididharma, saya tergugah dengan pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan oleh beliau Pertanyaan-pertanyaan tersebut seperti “apakah Mario Teguh seorang filsuf?” dan apakah seluruh omongan Mario Teguh yang membuat manusia termotivasi dan kemudian merasa nyaman dalam menempuh kehidupan bisa dikategorikan sebagai filsafat? Tidak ada satu orang mahasiswa pun pada saat itu yang sanggup untuk menjawabnya.

Menurut bapak Novian, filsuf adalah orang yang kontras dengan Mario Teguh dan filsafat adalah hal yang yang kontras pula dengan omongan Mario Teguh. Maka inti dari ucapan bapak Novian dapat disimpulkan bahwa jika kita ingin menjadi filsuf maka jangan seperti Mario Teguh. Lantas apakah meng-kontras-kan diri dengan mario teguh sudah cukup menjadi bekal untuk menjadi filsuf? Persoalan ini tidak dijelaskan oleh bapak Novian, saya berasumsi secara ringkas apa yang ingin disampaikan oleh bapak Novian adalah meng-kontras-kan diri dengan Mario Teguh adalah syarat mutlak untuk menjadi seorang filsuf.

Ada Apa dengan Mario Teguh?

Mario teguh adalah sang motivator yang selalu memotivasi manusia untuk mengatasi problematika kehidupan. Mario Teguh dengan kata-katanya mampu memotivasi dan merubah cara pandang audiensnya tentang persoalan-persoalan kehidupan baik itu persoalan dalam ranah privat maupun persoalan dalam ranah sosial. Begitulah hebatnya sang Mario Teguh.

Sekalipun Saya ragu apakah kata-kata yang keluar dari mulut Mario Teguh bisa mengatasi problem-problem sosial sebagaimana rekan saya M. Faksi mengatakan “andai semua persoalan bisa diselesaikan dengan kata-kata Mario Teguh, maka tidak akan ada lagi masyarakat kita yang kelaparan” namun tidak ada alasan untuk meragukan bahwa kata-kata Mario Teguh tersebut bisa mengatasi problem individu hanya dalam Artian bahwa individu yang pada awalnya karena problem-problem tertentu kemudian meresahkan dirinya setelah dimotivasi oleh Mario Teguh kemudian tidak lagi meresahkan problem-problem tersebut, atau bahkan individu yang pada awalnya meresahkan problem-problem sosialnya namun setelah dimotivasi kemudian merasa nyaman dengan kondisi sosialnya.

Mario Teguh, Upaya Menipu Diri dan Status Quo

Oleh karena Mario Teguh telah menciptakan individu-individu yang tidak lagi meresahkan problem-problem yang dihadapinya, baik itu problem privat maupun problem sosial, maka pada saat itu juga Mario Teguh telah menciptakan individu-individu yang menipu dirinya yaitu menipu diri dari problem-problem yang dia hadapi, artinya problem-problem yang dihadapi oleh individu tersebut sebenarnya tidak hilang, problem-problem tersebut tetap ada, dan sangat absurd jika kita menganggap problem-problem tersebut hilang hanya dengan mengubah cara pandang ataupun sikap kita terhadap problem tersebut. Dengan demikian kesadaran yang ditanamkan oleh Mario Teguh sang Motivator terhadap audiensnya hanyalah kesadaran palsu.

Apa jadinya suatu masyarakat jika manusia-manusinya tidak lagi mempunyai keresahan baik terhadap dirinya maupun terhadap kondisi sosialnya, padahal keresahan adalah pangkal tolak dari segala perubahan, jika itu terlalu berlebihan, maka setidaknya keresahan adalah pangkal tolak manusia untuk merubah apa yang dia resahkan. Keresahan sebagai pangkal tolak perubahan inilah yang telah dilennyapkan oleh Mario Teguh dan kemudian menggantinya dengan kesadaran-kesadaran palsu yang berujung pada status quo.

Filsafat karna ia sesuatu yang kontras dengan omongan Mario Teguh-sebagai mana bapak Novian menyebutkan- maka ia bersifat Demotvasi. Itu dikarenakan filsafat berangkat dari keresahan dan tidak jarang pula melahirkan keresahan-keresahan. Sedangkan filsuf sebagai subjek yang memiliki keresahan itu adalah subjek yang kontras dengan Mario Teguh karena filsuf dengan keresahan yang dimilikinya akan berupaya merubah apa yang dia resahkan oleh karena itu jika boleh saya katakan filsuf adalah Agen of Change, sedangkan Mario Teguh adalah Agen of Status quo.