Essai

Para Pembunuh Tuhan

Sebuah perjalanan pemikiran…

Tulisan ini saya mulai dengan narasi singkat tentang bagaimana saya berkenalan atau lebih tepatnya mengakrabkan diri dengan mereka. Hampir delapan tahun saya megenyam pendidikan pesantren yang serat akan doktrin agama, berbagai ilmu telah saya pelajari mulai dari ilmu umum, ilmu bahasa, sampai dengan pokok-pokok ajaran dasar keagamaan, fikih dan akidah, tapi bukan berarti saya sudah menguasi bidang keilmuan tersebut. Singkat cerita setelah lulus dari pesantren saya melanjutkan studi di salah satu perguruan tinggi islam di Jogja, disanalah titik awal pertemuan. Tidak ada hal baru yang saya rasakan diawal perkuliahan, materi-materi kuliah, yang diajarkan tidak jauh berbeda, bahkan lebih ringan dari yang dulu saya pelajari di pesantren, jadi saya tidak menemukan kesuliatan dalam mengikuti perkuliahan. Namun ada satu mata kuliah yang menarik, filsasat. Filsafat menjadi hal baru dan menarik untuk saya pelajari, mempertanyakan hal-hal yang mungkin bagi sebagian orang tidak perlu lagi untuk dibahas, memperbaiki kesalahan-kesalahan dalam menalar, mempelajari tokoh-tokoh yang tidak pernah saya dengar namanya. Pada intinya filsafatlah yang mengantarkan saya pada mereka.

            Mereka, para pembunuh Tuhan.  Predikat pembunuh tidak saya sematkan begitu saja pada diri mereka, bahkan diantara mereka ada yang mendeklarasikan diri secara terbuka sebagai pembunuh Tuhan. Tentu bagi kalangan agamawan pembunuhan merupakan hal yang sangat dilarang, dalam beberapa agama mengklasifikasikannya ke dalam perkara dosa besar, namun bagaimana dengan membunuh Tuhan? Dalam tradisi filsafat barat perkara Tuhan atau agama merupakan hal yang berada diluar kemampuan akal pikiran manusia, agnostik, sehingga pembicaran terkait dengan Tuhan tidak memiliki arti apapun, terlebih agama memilik sejarah yang buruk dalam memonopoli kehidupan dan cara berpikir pemeluknya. Tapi bukan berarti agama tidak memiliki tempat dalam masyarakat barat, Immanuel Kant salah seorang penggagas diskursus agama dalam filsafat mengungkapkan bahwa Tuhan tidak dapat dijangkau dengan akal tapi bukan berarti ia menolak Tuhan, hanya saja akal manusia lah yang terbatas tidak dapat menjangkau Tuhan, dan agama penting bagi manusia oleh karena itu sediakan ruang untuk Tuhan tapi terpisah dari rasionalitas manusia.

            Diskursus Tuhan dalam filsafat biasanya dihadapkan dengan dua problem, pertama adalah persolan apakah Tuhan dapat dibuktikan secara rasional, yang kedua persosalan apakah keimanan merupakan suatu yang rasional. Problem yang kedua sudah banyak dibahas dan bisa untuk dipecahkan sampai tuntas, bahwa keimanan merupakan suatu yang rasional dengan reasoning setiap manusia tidak bisa hidup tanpa sandaran. Problem yang pertama lebih sukar untuk dituntaskan, meskipun sudah banyak argumen yang menjelaskan rasionalitas tentang Tuhan tapi semua argumen tersebut terbantahkan. Dalam tulisan ini saya tidak akan membahas kedua persoalan secara menyeluruh, tapi hanya akan sedikit menyentuh kedua problem tersebut, dan mungkin pembahasan ini tidak menarik bagi kalian.

            Berbeda dengan tradisi filsafat di timur, filsafat barat cenderung skeptis bahkan anti terhadap agama atau pun Tuhan. Banyak pemikir besar dari barat yang pengaruhnya masih bisa kita rasakan sampai saat ini yang menolak Tuhan, bahkan membunuhnya! Berikut saya buatkan daftar para pembunuh Tuhan yang bagi sebagian orang meraka adalah pahlawan:

            Pertama, Ludwig Andreas von Feuerbach seorang filsof dan antropolog asal Jerman. Feurbach tidak secara terang-terangan menolak akan eksistensi Tuhan, malah sebaliknya ia menganggap dirinya sebagai seorang yang religius. Namun apalah arti penolakannya tersebut jika dalam praktiknya, pengertiannya tentang religius adalah pengertian ateisme sehari-hari. Pendapatnya tentang agama adalah kesadaran tentang yang tidak terhingga. Karena itu agama “tak lain daripada kesadaran akan ketidakterbatasan kesadaran, dalam kesadaran akan yang tidak terhingga, atau, dalam kesadaran tentang yang tidak terhingga, subyek yang sadar obyeknya adalah ketidakterbatasan dari hakikatnya sendiri.” Jadi Allah tidak lebih daripada manusia: dengan kata lain, ia adalah  proyeksi luar dari hakikat batin manusia sendiri. Semua  merupakan proyeksi hakikat manusia, misalnya kuasa, kreatif, baik, kasih sayang, dll. Namun sayangnya manusia lupa bahwa proyeksi tersebut adalah dirinya sendiri. Karena proyeksi tersebut sangat sempurna, manusia  menganggap proyeksi tersebut memiliki eksistensi sendiri, kemudian takut dan menyembahnya. Mereka lebih memilih berdoa dan meminta kepada proyeksi tersebut dari pada merealisasikan hakikatnya. Pada akhirnya agama mengasingkan manusia dari dirinya sendiri.

            Kedua, Karl Marx, mungkin tidak sedikit yang sudah mengenal sosok Marx, meskipun hanya sekedar pernah mendengar namanya. Di samping kritik tajamnya terhadap kapitalisme dalam bukunya Das Kapital, pendapatnya terhadap agama juga cukup menarik untuk dibicarakan, “ agama adalah candu”. Kritiknya terhadap agama tidak lepas dari kritik terhadap keadaan masyarakat kapitalis. Marx mengkritik Feurbach bahwa ia lupa akan alasan mengapa manusia tiba-tiba memproyeksikan citra Tuhan dalam diri manusia, Marx berpendapat bahwa keadaaanlah yang menjadikan manusia melakukan hal tersebut, karena dalam masyarakat kapitalis manusia tidak bisa untuk mewujudkan hakikatnya. Agama lebih sering digunakan sebagai obat penenang untuk memberi harapan kepada mereka yang miskin dan tertindas bahwa di kehidupan setelah kematian ada kehidupan yang lebih baik, agama selalu digunakan sebagai kontrol sosial untuk melanggengkan kelas penguasa. Marx percaya bahwa agama akan memudar dengan sendirinya dengan lahirnya komunisme, keyakinan akan Tuahan dan agama akan lenyap, “surga akan lahir di muka bumi”.

            Ketiga, Friedrich Wilhelm Nietzsche seorang filsuf dan ahli filologi yang meneliti teks-teks kuno dan juga di kenal sebagai “Sang pembunuh Tuhan”. Nietzche dalam karyanya  Also sprach Zarathustra yang sangat provokatif mendeklarasikan kematian Tuhan,”Tuhan sudah mati, dan kita telah membunuhnya..” Tuhan mati saat manusia sadar ternyata mereka-lah yang “menciptakan” Tuhan, bukan sebaliknya. Dengan matinya Tuhan mati pula ide-ide dan kebenaran-kebenaran universal. Bagaiman Tuhan mati? Ia mati dibunuh manusia dengan pencerahan dan sains pengetahuan yang mampu menjelaskan segalanya. Dengan demikian terbukalah horizon seluas-luasnya bagi segala energi kreatif untuk berkembang. Tidak ada lagi kecengangan trasendental, tidak ada lagi manusia pengecut yang melarikan diri dari dunianya dengan berlindung dibawah naungan Allah.

            Keempat, Sigmund Freud seorang ahli dalam bidang ilmu psikologi yang dikenal dengan teori psikoanalisanya.  Psikologi yang seharusnya bisa menjadi penguat keimanan seseorang akan keberadan Tuhan, karena psikologi adalah penjelajahan dunia batin manusia, semakin seseorang mengenal dirinya saharusnya semakin pula mengenal Tuhannya. Namun ditangan Freud psikologi menjadi pondasi untuk menolak keberadaan Tuhan, ber-Tuhan baginya adalah suatu “kegilaan”.  Melalui agama manusia ingin melindungi diri dari segala macam ancaman dan penderitaan, namun perlindungan itu hanya ilusi. Tuhan tidak benar-benar melindungi, hanya diinginkan melindungi. Mengharapkan apa yang diinginkan dapat terpenuhi adalah ciri-ciri anak-anak, sama halnya dengan pemeluk agama, Freud menyebutnya ilusi infantil. Agama membuat manusia lumpuh dengan harapan-harapan palsu dan sekarang mereka berada dalam kegilaan masal.

Keempat tokoh diatas adalah para pemikir abad 19 dimana modernisasi mulai merasuki berbagai aspek kehidupan masyarakat, termasuk di dalamnya pengingkaran terhadap ihwal metafisik, Positivisme logis.

            Jean Paul Sartre berada dalam urutan terakhir daftar ini. Satre adalah seorang eksistensialis kenamaan di awal abad 20, karya-karyanya dalam bidang sastra sangat berpengaruh baik di Prancis maupun dunia. Filsafat eksistensialisme Sartre menihilkan Tuhan. Yang manusia butuhkan bukanlah bukti dari eksistensi Tuhan, namun penemuan dirinya kembali dan untuk memahami bahwa tidak ada satupun yang dapat menyelamatkan dirinya kecuali dirinya sendiri. Dalam pengertian ini Sartre berani mengatakan bahwa eksisitensialisme itu optimistis, bukan ajaran untuk menarik diri dari dunia ramai dan mengurung diri dalam kesunyian, masuk dalam pertapan untuk menemukan ketenangan batin melainkan sebuah ajaran untuk bertindak secara konkret dalam dunia nyata, dunia manusia, bukan dunia Tuhan. Pemikiran Sartre eksistensi manusia mendahului esensinya menandaskan akan adanya Tuhan, bahwa dengan mematikan Tuhan maka manusia akan memiliki kebebasan untuk menentukan jati dirinya.

Selain kelima “pembunuh” di atas sebenarnya masih ada beberapa nama lagi yang layak saya masukan dalam daftar tersebut, tapi saya kira cukup.

            Uraian singkat masing-masing tokoh diatas cukup mempelihatkan bagamiana pandangan mereka tentang problem ke-Tuhan-an, yang bagi kita para “pemeluk agama” merupakan perkara yang sudah final dan tidak boleh diperdebatkan lagi.

            Tentu bagi seorang bijak, kebijaksanaan bisa berasal dari apa dan siapa pun bahkan dari orang gila sekali pun. Begitu pula dengan bagaimana seharusnya seorang mahsiswa sebagai kaum terdidik terlebih sebagai seorang muslim mampu mengambil hikmah dari buah pikiran para tokoh yang itu berlawanan dari apa yang menjadi keyakinannya. (13/5/18)

Wallahu a`lam bishawab…

Oleh: Iqbal Faza Ahmad