Pendidikan Pesantren: Pembentuk Karakter Generasi Millenial

Oleh: Achmad Syafi’I (IAIN Kediri)

Pendidikan merupakan unsur penting dalam kehidupan. Melalui pendidikan manusia dapat mengetahui sesuatu yang sebelumnya tidak ia mengerti, dapat menjadi seorang yang lebih bermoral, dan dapat mengangkat derajat. Di Indonesia banyak sekali lembaga pendidikan, baik formal maupun non formal. Kedua lembaga pendidikan tersebut sama-sama memiliki tujuan untuk mencerdaskan bangsa. Tetapi keduanya memiliki perbedaan. Pada lembaga pendidikan non formal seperti pesantren, akhlak menjadi salah satu yang ditekankan selain ilmu. Pemilihan akhlak bukan tanpa alasan, karena umum kita ketahui bahwa dewasa ini banyak ditemukan orang yang pintar tetapi tidak memiliki akhlak yang baik.

Generasi millenial sebagai generasi penerus bangsa hendaknya selain pintar, juga harus memiliki karakter yang unggul. Disadari atau tidak, generasi millenal saat ini adalah  generasi emas. Mereka digadang-gadang pada tahun 2045 akan memimpin indonesia. Artinya, mereka sekarang masih menempuh pendidikan, mulai dari sekolah dasar hingga perguruan tinggi. Masa depan indonesia berada dalam genggaman tangan mereka, para pelajar. Tetapi akhir-akhir ini juga banyak kita temukan kasus kriminal yang melibatkan generasi emas ini. Seperti kasus pelecehan seksual, tawuran, perkelahian antar pelajar, melawan guru, hingga pembunuhan. Dalam kurun waktu 2008 sampai 2011 tercatat 11.116 anak usia pelajar terlibat dalam kasus kriminal. Jika dilihat dari jumlah yang begitu banyak tersebut, artinya sistem pendidikan kita sedang tidak baik-baik saja. Lembaga Pendidikan harus melihat masalah kemrosotan karakter ini. Pesantren sebagai salah satu lembaga pendidikan di Indonesia adalah adalah jawaban atas permasalahan tersebut.



Pesantren merupakan lembaga pendidikan yang sudah eksis sejak sebelum Indonesia merdeka. Pesantren telah memberikan kerangka mendasar mengenai islam. Di dalamnya para siswa atau sering disebut dengan santri mendapatkan pengajaran mengenai dasar-dasar keislaman yang bersumber dari kitab-kitab karangan ulama salaf yang disampaikan oleh seorang guru agama atau kyai. Santri adalah sebutan bagi mereka yang mencari ilmu kegamaan di dalam pesantren. Secara historis santri berasal dari bahasa Sanskersta “cantrik” yang memiliki arti penghafal kitab suci dalam agama Hindu.

Para santri ketika mencari ilmu agama kebanyakan memilih untuk tinggal di sekitar rumah kyai. Pada awalnya, mereka membuat gubuk-gubuk sederhana yang digunakan untuk beristirahat dengan alasan untuk menghemat waktu karena para santri tersebut rata-rata berasal dari tempat yang jauh. Dalam perkembanganya, kyailah yang membangun asrama bagi santri untuk digunakan sebagai tempat tinggal sementara selagi sedang menimba ilmu agama.

Sistem pengajaran yang dipakai di dalam pesantren berbeda dengan sistem pendidikan yang dipakai oleh lembaga pendidikan formal. Pesantren menggunakan sistem pengajaran tradisional. Misalnya dalam menyampaikan ilmu agama, kyai duduk di depan para santri lalu membacakan, menerjemahkan, dan menjelaskan sebuah kitab. Metode tersebut disebut dengan bandongan. Para santri sendiri selain mendengarkan, juga ikut menerjemahkan kitab yang mereka bawa. Setelah itu, para santri akan bergantian membacakan arti dan menjelaskan isi kitab kepada kyai. Metode tersebut dikenal dengan metode sorogan. Tetapi, setiap pondok pesantren memiliki perbedaan dalam penyebutan metode-metode tadi, seperti musyawarah, mudarrasah, dan mudzakaroh.

Selain pendidikan agama, pondok pesantren juga menekankan pendidikan karakter. Bahkan para santri ketika baru masuk pesantren, pertama kali akan diajarkan tentang akhlak. Di dalam kitab Ta’limul Muta’alim misalnya, yang diajarkan rata-rata pada kelas 1-2 ibtida atau ketika masih tingkat dasar. Di dalamnya terdapat tiga belas bab yang diantaranya membahas tentang penegertian dan keutamaan ilmu, niat di kala belajar, memilih guru dan teman serta ketahanan dalam belajar, menghormati ilmu dan ulama, dan cita-cita yang luhur. Dari beberapa bab tersebut, dapat kita lihat bahwa pesantren juga mengutamakan pendidikan karakter disamping pendidikan agama.

Pendidikan karakter merupakan suatu sistem pendikan dengan fokus utama pada penanaman nilai-nilai yang meliputi pengetahuan, kesadaran, dan kemauan. Pendidikan karakter sendiri sering dimaknai sebagai pendidikan moral, pendidikan etika, dan pendidikan akhlak. Pendidikan karakter bertujuan untuk menanamkan suatu nilai kepada murid yang dapat membawanya kepada perilaku yang terpuji dan sejalan dengan nilai-nilai budaya. Selain itu, pendidikan karakter juga bertujuan agar peserta didik memiliki jiwa afektif terhadap sesama dan lingkungan.

Sejalan dengan tujuan pendidikan nasional yang tercantum dalam Undang Undang Sistem Pendidikan Nasional bahwa pendidikan nasional bertujuan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa dan meningkatkan kualitas manusia agar terwujud masyarakat yang maju, adil dan makmur berdasarkan Pnacasila dan UUD 1945. Sistem pendidikan yang dilakukan oleh pesantren dapat membantu mencapai tujuan pendidikan nasional tersebut. Pesantren memiliki potensi yang besar dalam rangka meningkatkan kualitas manusia Indonesia karena pesantren memiliki keunggulan dalam pendidikan akhlaknya.

Perkembangan pesantren sendiri dari hari ke hari terlihat begitu pesat jika dibandingkan dengan pesantren di negara misalnya Malaysia dan Philipina. Dari segi kuantitas, pesantren cukup banyak berperan dalam mewujudkan tujuan pendidikan nasional. Seperti yang dikatakan oleh mantan Menteri Agama H. Alamsyah Ratu Prawiranegara, bahwa pesantren merupakan sistem pendidikan paling baik. Hal tersebut karena pesantren dalam pendidikannya salah satunya menggukan kitab kuning karangan ulama salaf.

Kitab kuning sangat identik dengan tradisi pesantren. Dengan kitab kuning, tradisi keilmuan pesantren dijaga, dipelihara, dan dikembangkan sehingga dapat menjadi landasan pacu dalam mengembangkan sekaligus merumuskan pemikiran islam dalam merespon kemajuan. Salah satu kitab penting dalam kajian akhlak di pesantren adalah kitab Adabul ‘Alim Wa Almuta’alim karangan Kyai Hasyim Asyari.

Kitab ini secara garis besar membahas tentang adab atau tata krama antara murid dan guru. Di dalamnya terdapat sembilan bab yang diantaranya membahas tentang keutamaan ilmu, akhlak santri pada dirinya sendiri, akhlak santri terhadap gurunya, akhlak ustaz terhadap murid, akhlak guru bersama murid, akhlak ustaz ketika mengajar, dan akhlak guru bersama muridnya.



Di dalam bab kedua, disebutkan bahwa seorang murid harus mensucikan diri dari berbagai hal yang kotor karena ilmu tidak akan masuk kepada sesuatu yang kotor. Lalu dibahas juga jika seorang murid harus menyedikitkan makan. Alasannya karena beberapa pemyakit berasal dari kebanyakan makan dan minum. Selain itu, kebanyakan makan juga akan membuat otak menjadi tumpul dan menjadi kesulitan dalam menerima pelajaran.

Di bab lain yang membahas tentang akhlak seorang murid terhadap gurunya, menyebutkan, bahwa seharusnya seorang murid atau santri harus berusaha secara sungguh-sungguh dalam mencari guru. Seorang murid juga harus memiliki sikap menurut terhadap guru dalam perkara yang tidak melanggar syariat. Selanjutanya seorang murid tidak boleh tertawa terlalu keras di hadapan gurunya. Di dalam suatu forum pertemuan, murid hendaknya memuliakan orang lain, memakai budi pekerti yang baik, menghormati pemimpin atau pejabat, dan tidak berbicara dengan suara yang keras.

Seorang santri juga tidak boleh mendahului gurunya dalam menjelaskan sesuatu. Hendaknya dia mendahulukan gurunya atau boleh mendahului atas izin dari guru. Selain itu, seorang murid ketika berjalan tidak boleh berjalan di depan guru. Hal itu dilakukan untuk menghormati guru karena dari dia, seorang murid memperoleh ilmu.

Pembahasan didalamnya tidak hanya soal murid, tetapi guru juga dibahas. seorang guru ketika sedang menyampaikan pelajaran, hendaknya memakai pakaian yang rapi, memakai wangi-wangian dan bebas dari hadats. Selain itu, seorang guru juga hendaknya menajuhkan dari sendau gurau yang sekiranya dapat merendahkan wibawanya di hadapan murid. Lalu, seorang guru juga ketika mengajar, disarankan aga perutnya tidak dalam keadaan kosong, haus dan dahaga, cemas, dan marah.

Kajian Kitab yang komperhensif dalam pesantren dan konsep yang  menekankan keselarasan antara seorang guru sebagai seorang yang mengajarkan sesuatu dan murid sebagai penerima pelajaran dapat menjadi sarana perbaikan karakter generasi millenial dan mewujudkan tujuan pendidikan nasional. Maka, ketika generasi millenial dapat kembali memiliki karakter yang baik, bukan tidak mungkin Indonesia akan maju, adil, dan sejahtera karena dipimpin oleh pemimpin yang memiliki akhlak yang baik.

Pustaka



Al-Zarnuji, Syeikh. 2005. Ta’lim Muta’alim. Terj. Fathu Lillah. Kediri: Santri Salaf Press

Asyari, Hasyim. Adabul ‘Alim Wa Al-Muta’alim Fi Ma Yajibu Ilaihi Al-Muta’alim Fi Ahwali Ta’limihi Wa Ma Yatawaqafahu Alaihi Al-Mu’alim Fi Maqamati Ta’limihi. Jombang: Maktabah At-Turats Al-Islamy

https://akurat.co/news/id-555028-read-kpai-anak-jadi-pelaku-kriminalitas-trendnya-meningkat

Junaedi, Mahfud. 2017. Paradigma Baru Filsafat Pendidikan Islam. Depok: Kencana

Siroj, Said Aqil. 2006. Tasawuf Sebagai Kritik Sosial Mengedepankan Islam Sebagai Inspirasi, Bukan Aspirasi. Jakarta: Sas Foundation

Omeri, Nopen. “Pentingnya Pendidikan Karakter Dalam Dunia Pendidikan”. (https://media.neliti.com/publicationspdf/pentingnya-pendidikan-karakter-dalam…)

http://slot.piipers.hemsida.eu/ http://slot-game.piipers.hemsida.eu/ https://publications.thapar.edu/plugins/slot88/ https://philparsons.co.uk/ https://omatsuri.co.jp/ http://room.eco.ku.ac.th/images/slot-deposit-pulsa/ https://chair.rmu.ac.th/media/images/link-gacor/ https://exams2.mehe.gov.lb/ https://mobileapp.iom.int/ https://uts.com.pk/slot-gacor-online/ https://devinscricao.uniritter.edu.br/ https://ilxl.ecs.fullerton.edu/wp-includes/ https://librarydirectory.dpi.wi.gov/ https://mctrans.ce.ufl.edu/wp-includes/assets/slot-gacor/ https://weatheraidev-trafficmanager.accuweather.com/ https://engineering.news.com.au/ https://weddinglovely.com/ http://situs-slot.piipers.hemsida.eu/ https://cmder.net/ http://judi-slot.piipers.hemsida.eu/ https://onokumus.com/ http://mycollab.com/ http://pg-slot.piipers.hemsida.eu/ http://slot-pulsa.piipers.hemsida.eu/ http://judi-slot-online.piipers.hemsida.eu/ https://mctrans.ce.ufl.edu/wp-includes/sitemaps/ http://judi-online.piipers.hemsida.eu/ https://shibboleth.csustan.edu/ http://slot-terpercaya.piipers.hemsida.eu/ http://slot-pragmatic.piipers.hemsida.eu/ http://data.withinwindows.com/ http://implbits.com/ http://ciudadanointeligente.org/ http://bocabit.elcomerciodigital.com/ https://onlineprd.uncg.edu/ https://piipers.hemsida.eu/ http://tesismapantropologia.izt.uam.mx/images/-/slot-gacor/ http://geografiahumana.izt.uam.mx/wp-includes/images/-/slot-gacor/ https://mctrans.ce.ufl.edu/wp-content/uploads/2022/slot-demo/ http://economiafinanciera.izt.uam.mx/wp-includes/sitemaps/-/situs-slot-online/ http://imaginariosyrepresentaciones.izt.uam.mx/wp-includes/images/media/slot-terbaik/ http://moeduniv.izt.uam.mx/wp-includes/Requests/slot/ http://www.coloquiodeadministracion.izt.uam.mx/wp-includes/css/slot-online/ http://slot-gacor.piipers.hemsida.eu/ https://ulakumina.unilever.com/ http://chipmeup.pokernews.com/ https://duedex.com/ https://vtuber.damonge.com/ http://pragmatic.piipers.hemsida.eu/ https://srollins.cs.usfca.edu/ https://vp.becode.org/ https://spotspot.wstone.io/ https://changelog.itrackbites.com/ http://2016.gopherconbr.org/ "http://situs-slot-online.piipers.hemsida.eu/ http://docs.aptana.com/ https://data.hudson.com/ http://schdt2.microsoft.com/ http://schom2.microsoft.com/ https://magento234.webkul.com/