Rape Culture

Rape Culture

            Pemerkosaan merupakan kasus yang sampai saat ini masih marak terjadi. Berdasarkan catatan komnas perempuan pada tahun 2019 terdapat 431.471 kasus kekeraan terhadap perempuan. Data ini bersumber dari kasus atau perkara yang ditangani oleh PN/PA. Data ini dihimpun dari 3 sumber yakni; [1] Dari PN/Pengadilan Agama sejumlah 421.752 kasus. [2] dari Lembaga layanan mitra Komnas Perempuan sejumlah 14.719 kasus; [3] dari Unit Pelayanan dan Rujukan (UPR) satu unit yang sengaja dibentuk oleh Komnas Perempuan untuk menerima pengaduan korban yang datang langsung ke Komnas Perempuan sebanyak 1.419 kasus. Berdasarkan data yang dicatat oleh UPR 25% diantaranya adalah kasus kekerasan seksual yaitu sebanyak 2.807 kasus.[1] Bahkan komnas perempuan mencatat bahwa setidaknya dalam dua jam terdapat tiga perempuan mengalami kekerasan seksual.[2]

            Kasus kekerasan seksual di Indonesia setiap tahun selalu mengalami peningkatan, meski begitu belum banyak upaya yang bisa dilakukan untuk menangani persoalan tersebut. Hal ini terjadi karena kasus kekerasan seksual khsusnya terhadap perempuan “didukung” oleh budaya masyarakat. Masyarakat  menganggap bahwa kekerasan seksual merupakan hal yang tabu dan tidak pantas dibicarakan di muka umum, apalagi mejadi diskursus. Hal ini kemudian menyebabkan korban kekerasan seksual tidak berani untuk bicara atau melaporkan kasus yang dialami. Selain itu, alasan perempuan korban pelecehan seksual tidak berani untuk melaporkan kasus yang dialami adalah karena Pelaporan pelecehan seksual masih sering mendapat respon yang kurang menyenangkan. Mulai dari streotip negatif masyarakat, dan justifikasi negatif atau yang lebih parahnya ketika korban mengadu, aduan mereka dianggap remeh dan malah di gunakan sebagai bercandaan.[3] Disisi lain budaya masyarakat kita masih memandang bahwa hal terpenting dari seorang wanita adalah keperawanannya. Stigma sosial yang sering harus dihadapi korban pelecehan seksual adalah bahwa dia sudah “kotor”, sehingga dia tidak memiliki masa depan lagi.

            Survei yang dilakukan Lentera Sintas Indonesia dan Change.org menemukan bahwa 6,5% dari total 25.213 responden mereka mengaku pernah diperkosa. Akan tetapi, 93% dari mereka tidak melaporkan tindakan kriminal ini ke polisi. Alasan terbesar dari mengapa para korban menutupi kejadian ini adalah karena mereka takut akan stigma sosial yang akan mereka dapatkan dari masyarakat.[4] Lebih parahnya lagi, bukan hanya korban yang mendapatkan stereotype negatif dari masyarakat, orang yang medukung korban kekerasan seksual juga mengalami hal yang sama. Seperti yang dialami oleh dua selebritas yaiatu Via Vallen dan Gita Savitri yang menjadi buah bibir warganet ketika megupload sebuah kasus pelecehan seksual.[5]  hal inilah yang kemudian disebut sebagai rape culture.

            Dalam Oxford Dictionaries, rape culture didefinisikan sebagai istilah untuk menggambarkan suatu masyarakat ataupun lingkungan yang terkesan menyepelekan pelecehan seksual. Bahkan, masyarakat memiliki tendensi untuk menyalahkan korban atau victim blaming. Definisi Rape Culture berasal dari tahun 1970-an, bertepatan dengan gelombang kedua gerakan feminis Dianne Herman[6] (1984), sarjana pertama yang mengartikulasikan definisi tersebut, berpendapat bahwa pemerkosaan akan terus meluas selama kekerasan seksual dan dominasi laki-laki diagungkan. Pada 1993, Buchwald, Fletcher, dan Roth mendefinisikan budaya pemerkosaan sebagai budaya di mana pemerkosaan adalah fakta kehidupan, seperti kematian atau pajak. Rape Culture tidak hanya berkaitan dengan perempuan; laki-laki, dan individu gay, lesbian, biseksual dan transgender diperkosa.[7]

            Rape Culture adalah sebuah sistem kepercayaan yang tertanam dalam suatu masyarakat, yang membenarkan agresi dan kekerasan terhadap perempuan, maupun anak. Dari teori tersebut dapat dimaknai bahwa penyebab seseorang melakukan pemerkosaan bukan hanya motivasi diri dari si pelaku semata, tetapi hal tersebut terjadi dikarenakan adanya sokongan dari masyarakat, dengan cara memberikan sokongan terhadap perbuatan tersebut.[8]

            Terdapat setidaknya dua ciri masyarakat yang memiliki Rape Culture yaitu pertama, saat masyarakat membenarkan tindakan-tindakan kejahatan seksual, dengan cara menunjuk korban sebagai pihak utama untuk disalahkan (misalnya seperti meyakini bahwa pemerkosaan terjadi karena persetujuan korban, atau pelecehan seksual terjadi karena korban ‘mengingkannya’); dan kedua, saat tindakan-tindakan heteroseksualitas yang tidak pantas dianggap sebagai sesuatu yang normal.[9]

            Rape Culture merupakan fenomena interseksional yang  melintasi jenis kelamin, ras, kemampuan, suku, seksualitas dan lain sebagainya. Hal ini dibuktikan dari korban kasus perkosaan yang terjadi bukan hanya peremupuan atau laki-laki melainkan juga Penyandang disabilitas.[10] Rape culture dihasilkan oleh buah pemikirian yang kita miliki, dan bagaimana kita mengekspresikannya di ranah  publik. Jika pelecehan seksual terjadi, semua orang dalam masyarakat mempunyai pertanggungjawaban terhadap kejadian tersebut. Walaupun itu lelucon mengenai pemerkosaan, menyalahkan temannya yang merupakan korban suatu kekerasan seksual karena penampilannya ‘menggoda’, atau mungkin se-sederhana dengan berdiam diri di saat hal-hal tersebut terjadi. Kita semua terlibat, dan itulah alasannya mengapa hal tersebut merupakan tanggungjawab moral kolektif kita untuk memusnahkan budaya ini.[11]

Budaya pemerkosaan atau Rape Culture mengacu pada kompleks kepercayaan yang  mendorong agresi seksual laki-laki dan mendukung kekerasan terhadap perempuan. Ini adalah  masyarakat di mana kekerasan dipandang sebagai seksi dan seksualitas sebagai kekerasan. Dalam  Rape culturr, perempuan melihat kontinum dari ancaman kekerasan yang berkisar dari komentar seksual hingga sentuhan seksual hingga pemerkosaan itu sendiri. Budaya pemerkosaan  membenarkan terorisme fisik dan emosional terhadap perempuan sebagai norma.

            Rape Culture yang berkembang di masyarakat inilah yang menyebabkan maraknya kasus pelecehan seksual. Pelecehan seksual tidak hanya banyak terjadi di Indonesia,melainkan hampir diseluruh negara didunia terdapat pelecehan seksual. Di Amerika Serikat, Jaringan Nasional Pemerkosaan,  Penyalahgunaan, dan Inses melaporkan bahwa pemerkosaan terjadi setiap 107 detik; 68% dari  serangan tersebut tidak dilaporkan, dan dua pertiga di antaranya dilakukan oleh seseorang yang  dikenal korban.[12] Di Inggris Raya, lebih dari 85.000 wanita diperkosa dan 400.000 diserang setiap tahun.[13] Negara lain yang juga banyak mengalami insiden pemerkosaan antara lain, Lesotho, Swedia, Afrika Selatan, St. Vincent dan  Grenadines, Selandia Baru, dan Belgia (Iaccino, 2014). artinya, pemerkosaan dan budaya yang menormalkannya adalah masalah duniawi.[14]

Sadar atau tidak sadar rape culture masih terus di pertahakan bahkan direproduksi. Media memiliki peran yang sangat kuat dalam membentuk rape culture dan bahasa misoginis. Media banyak memperkuat gagasan hegemoni maskulinitas, menggambarkan laki-laki sebagai agresif, dan pemerkosaan sebagai kejadian biasa. Misalnya, drama remaja, Reign, menciptakan  kontroversi pada akhir 2014 ketika menampilkan adegan pemerkosaan yang kejam.[15] Di luar drama fiksi, media mengabadikan budaya pemerkosaan dengan menyebut “pemerkosaan” sebagai “seks”, atau bersimpati dengan pemerkosa daripada korban,  sebagaimana dibuktikan oleh liputan reporter CNN tentang kasus pemerkosaan Steubenville. Lebih lanjut, media juga mengobyektifikasi tubuh manusia, terutama perempuan kulit hitam, di televisi, film, dan majalah, pesannya adalah tubuh adalah “benda” yang dapat dilanggar. Film seperti Say Anything, Crazy Stupid Love, The Fast and the Furious,  Neighbours, American Pie, Hitch, The Notebook, dan bahkan film Disney, Beauty and the Beast  menunjukkan bahwa penyerangan adalah bagian normal dari cerita apa pun.[16] Selain itu media sosial dan musik populer juga berperan dalam memperkuat rape culture Lirik dari lagu Robin Thicke  2013, “Blurred Lines” berbunyi, “I know you want it”. Rick Ross, dalam  lagunya tahun 2013, U.O.E.N.O., mengetuk, “Masukkan semua molly ke dalam sampanye, dia  bahkan tidak menyadarinya. Saya membawanya pulang dan saya menikmatinya, dia bahkan  tidak menyadarinya. ” Umpan Twitter pada tahun 2014 mendegradasi korban dan  mempromosikan penyerang di Inggris dan Amerika Serikat”.[17]

            Rape Culture juga tidak luput dari politik. Dalam kampanye Perwakilan Todd Akin untuk Senat Missouri, dia mengklaim bahwa tubuh wanita ditutup jika mereka diperkosa secara  sah. pemerkosaan sekalipun, Tuhan pasti menginginkannya jika wanita tersebut hamil. Pernyataan yang salah ini menunjukkan bahwa bahkan dalam  dialog publik, budaya pemerkosaan tetap dipertahankan.[18]

Telah terbukti, bahwa kita hidup di suatu masyarakat yang mempromosikan kejahatan/pelecehan/kekerasan seksual, yang menyediakan lahan subur untuk aktifitas-aktifitas kejahatan seksual untuk bertumbuh. Sebagaimana opini antropolog Lionel Tiger : meskipun laki-laki, terkhusus jika dalam sebuah grup, memunyai kecenderungan untuk menjadi agresif terhadap perempuan, tetapi tidak selalu berakhir dengan tindak pemerkosaan atau tindak kekerasan lainnya.[19]

Sudah saatnya masyarakat kita berhenti memperlakukan wanita seperti warga kelas dua. Wanita dan pria memiliki kedudukan yang sama di mata hukum dan sosial. Tidak ada satupun wanita yang “meminta” untuk diperkosa ataupun sengaja “mengundang” perbuatan iseng dari oknum-oknum tidak bertanggung jawab. Bahkan bila kita berbicara mengenai suatu situasi yang lebih ekstrim, “Tidak ada satu orangpun yang berhak untuk melakukan pelecehan seksual terhadap orang lain, bahkan apabila orang tersebut telanjang bulat di jalanan”. Alasannya juga samadengan mengapa seseorang tidak boleh mencuri uang orang lain walaupun dompet orang tersebut ada di depan mata, dan tidak ada saksi di sekitarnya.[20]

 

[1] DPN SBMI, “RINGKASAN EKSEKUTIF CATATAN TAHUNAN KOMNAS PEREMPUAN 2020,” 2020, http://sbmi.or.id/2020/03/ringkasan-eksekutif-catatan-tahunan-komnas-perempuan-2020/.

[2] Bangun Santoso, “Komnas: Tiap 2 Jam, 3 Perempuan Indonesia Alami Kekerasan Seksual,” Suara.Com, 2020, https://www.suara.com/news/2020/05/14/043837/komnas-tiap-2-jam-3-perempuan-indonesia-alami-kekerasan-seksual?page=all.

[3] Bela, “RAPE CULTURE,” Medium, 2019, https://medium.com/@draftbiru_/rape-culture-33bd30051802.

[4] Beh Lih Yi, “Over 90 Percent Rape Cases Go Unreported in Indonesia: Poll,” Reuters, July 25, 2016, https://www.reuters.com/article/us-indonesia-crime-women-idUSKCN1051SC.

[5] Aulia Adam, “Melawan Budaya Perkosaan Bersama Gitasav Dan Via Vallen,” Tirto.Id, 2018, Melawan Budaya Perkosaan bersama Gitasav dan Via Vallen.

[6] Dianne F Herman, The Rape Culture.” In Women: A Feminist Perspective”, ed. Jo Freeman (CA:Mayfield: Mountain View, 1984), 45–53.

[7] Ridgway, “25 Everyday Examples of Rape Culture,” Everydayfeminism.Com, March 10, 2014, http://everydayfeminism.com/2014/03/examples-of-rape-culture/.

[8] April Cobos, “‘“Rape Culture” Language and the News Media: Contested versus Non-Contested Cases.,’” Journal for Communication Studies 7, no. 23 (2014): 38.

[9] et al Sills, Sophie, “‘Rape Culture and Social Media: Young Critics and a Feminist Counterpublic.,’” Feminist Media Studies 16, no. 6 (2016): 936, https://doi.org/doi:10.1080/14680777.2015.1137962.

[10] Madden.K, “Rape Culture: The Media’s Role in Normalizing Assault,” Laverne.Edu, May 16, 2014, http://laverne.edu/campus-times/2014/05/rape-culture-the-medias-role-in-normalizing-assault/.

[11] Julian Martin, “Memahami Budaya Pemerkosaan,” n.d., https://rifka-annisa.org/id/berita/berita-umum/item/591-memahami-budaya-pemerkosaan#_ftn5.

[12] RAINN, “Rape, Abuse, and Incent National Network (RAINN),” 2014, www.rainn.org .

[13] L Bates, “This Is Rape Culture – and Look at the Damage It Does,” The Guardian, 2014, http://www.theguardian.com/lifeandstyle/womens-blog/2014/feb/14/rape-culture- %0Adamage-it-does-everyday-sexism.

[14] Ann Burnett, The Wiley Blackwell Encyclopedia of Gender and Sexuality Studies, ed. Angela Wong et al. (Singapore: John Wiley & Sons, Ltd, 2016), https://doi.org/10.1002/9781118663219.

[15] M Davies, “CW’s Royal Teen Drama Reign Showed a Graphic Rape Scene,” jezebel.com, 2014, http://jezebel.com/cws-royal-teen-drama-reign-showed-a-graphic-rape-scene-1667460775.

[16] Maxwell. Z, “Rape Culture Is Everywhere Our Children Can See – Watch Your Favorite Movies Prove It,” Mic.com, 2014, http://mic.com/articles/94844/rape-culture-is-everywhere-our-children- %0Acan-see-watch-your-favorite-movies-prove-it.

[17] Burnett, The Wiley Blackwell Encyclopedia of Gender and Sexuality Studies.

[18] J. Geffre Kacmarek, “Rape Culture Is: Know It When You See It,” huffingtonpost.com, 2013, http://www.huffingtonpost.com/julia-kacmarek/rape-culture-is_b_3368577.html.

[19] and Robert Strikwerda May, Larry, “Men in Groups: Collective Responsibility for Rape,” Hypatia vol 9, no. 2 (1994): 134–51, https://doi.org/doi:10.1111/j.1527-2001.1994.tb00437.x.

[20] Aditya Aulia Wibowo, “Indonesia Punya Masalah Rape Culture,” Jurnal Kebenaran (JK), 2017, https://jurnalkebenaran.com/sosial/indonesia-punya-masalah-rape-culture/.

http://slot.piipers.hemsida.eu/ http://slot-game.piipers.hemsida.eu/ https://publications.thapar.edu/plugins/slot88/ https://philparsons.co.uk/ https://omatsuri.co.jp/ http://room.eco.ku.ac.th/images/slot-deposit-pulsa/ https://chair.rmu.ac.th/media/images/link-gacor/ https://exams2.mehe.gov.lb/ https://mobileapp.iom.int/ https://uts.com.pk/slot-gacor-online/ https://devinscricao.uniritter.edu.br/ https://ilxl.ecs.fullerton.edu/wp-includes/ https://librarydirectory.dpi.wi.gov/ https://mctrans.ce.ufl.edu/wp-includes/assets/slot-gacor/ https://weatheraidev-trafficmanager.accuweather.com/ https://engineering.news.com.au/ https://weddinglovely.com/ http://situs-slot.piipers.hemsida.eu/ https://cmder.net/ http://judi-slot.piipers.hemsida.eu/ https://onokumus.com/ http://mycollab.com/ http://pg-slot.piipers.hemsida.eu/ http://slot-pulsa.piipers.hemsida.eu/ http://judi-slot-online.piipers.hemsida.eu/ https://mctrans.ce.ufl.edu/wp-includes/sitemaps/ http://judi-online.piipers.hemsida.eu/ https://shibboleth.csustan.edu/ http://slot-terpercaya.piipers.hemsida.eu/ http://slot-pragmatic.piipers.hemsida.eu/ http://data.withinwindows.com/ http://implbits.com/ http://ciudadanointeligente.org/ http://bocabit.elcomerciodigital.com/ https://onlineprd.uncg.edu/ https://piipers.hemsida.eu/ http://tesismapantropologia.izt.uam.mx/images/-/slot-gacor/ http://geografiahumana.izt.uam.mx/wp-includes/images/-/slot-gacor/ https://mctrans.ce.ufl.edu/wp-content/uploads/2022/slot-demo/ http://economiafinanciera.izt.uam.mx/wp-includes/sitemaps/-/situs-slot-online/ http://imaginariosyrepresentaciones.izt.uam.mx/wp-includes/images/media/slot-terbaik/ http://moeduniv.izt.uam.mx/wp-includes/Requests/slot/ http://www.coloquiodeadministracion.izt.uam.mx/wp-includes/css/slot-online/ http://slot-gacor.piipers.hemsida.eu/ https://ulakumina.unilever.com/ http://chipmeup.pokernews.com/ https://duedex.com/ https://vtuber.damonge.com/ http://pragmatic.piipers.hemsida.eu/ https://srollins.cs.usfca.edu/ https://vp.becode.org/ https://spotspot.wstone.io/ https://changelog.itrackbites.com/ http://2016.gopherconbr.org/ "http://situs-slot-online.piipers.hemsida.eu/ http://docs.aptana.com/ https://data.hudson.com/ http://schdt2.microsoft.com/ http://schom2.microsoft.com/ https://magento234.webkul.com/