Upaya Membumikan Moderasi Agama oleh Kementrian Agama Republik Indonesia

Oleh: Nazila Khoerunnisa

Urgensi dari pengotimalisasian sikap Moderasi beragama, sedari dulu telah digagas dan diperjuangkan oleh berbagai Lembaga, terkhusus Kementrian Agama. Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin mengatakan, moderasi agama penting dikedepankan untuk sikapi keragaman. Moderasi agama adalah bagaimana agama disikapi, dipahami kepada esensi dan substansi agama itu sendiri.“Karena semua agama itu mengajarkan ajaran yang moderat, dalam artian moderat itu lawan kata dari ekstrim. Tidak ada agama yang mengajarkan kepada kita untuk bertindak di luar batas,” ujar Menag dalam wawancara dengan salah satu stasiun televisi swasta di Jakarta, Jumat (20/10).,”Ini untuk menjawab pertanyaan apa yang dilakukan oleh Kementerian Agama dalam rangka meredam tindakan radikalisme dan ekstrimisme yang masih saja muncul di masyarakat,” lanjutnya.

Menurut Menag Lukman, untuk mengatasi hal tersebut, edukasi mengenai moderasi agama telah dilakukan Kemenag dengan melakukan edukasi kepada masyarakat, juga melalui para tokoh-tokoh agama dengan mengedepankan substansi dan esensi agama supaya bisa dipahami dengan baik. Semua agama menurut Lukman mengajarkan pemeluknya untuk bertindak secara proporsional, moderat.

Pemahaman akan substansi dan esensi agama yang baik, menurut Lukman akan berdampak pada bagaimana masyarakat kita melihat keragaman. Kalau semua pemeluk agama memiliki pemahaman yang sama dalam melihat keragaman, maka sikap ekstrim dapat dihindari. “Pada hakekatnya kita semua ini sama karena semua agama berupaya untuk melindungi harkat dan martabat kemanusiaan,” jelas Lukman.

Bila selama ini masih muncul perbedaan sikap dalam memahami keragaman, menurut Menag ini berkaitan dengan wawasan yang dimiliki. Termasuk, munculnya radikalisme dan ekstremisme muncul karena adanya keterbatasan wawasan.”Radikalisme, tindakan ekstrim itu muncul juga karena keterbatasan wawasan yang menganggap dirinya saja yang paling benar, kemudian menganggap pihak lain yang berbeda dengan dirinya kemudian menjadi salah,” lanjut Lukman. Hal ini, ujar Menag, yang kemudian memicu ada upaya-upaya memaksakan kehendak dengan cara-cara kekerasan agar kelompok yang berbeda itu sama dengan kelompoknya.“Padahal keragaman itu justru lahir karena ditengah-tengah keterbatasan kita, kita harus saling bersinergi, saling mengisi dan saling melengkapi satu dengan lainnya,” ucapnya.

Hal tersebut senada dengen apa yang disampaikan oleh Yaqut Cholil Qoumas selaku Menteri Agama Republik Indonesia. Setiap kita perlu terus menumbuhkan kesadaran bahwa keragaman agama, bahasa, budaya, dan etnis bukanlah dalih untuk konflik, tetapi kekayaan umat manusia. Keragaman adalah kekayaan.Keragamaan adalah potensi bagi kita untuk saling mengenal dan berkolaborasi dalam kebaikan dan mewujudkan kemaslahatan bersama. Sebab, mereka yang bukan seiman adalah saudara dalam kemanusiaan.

Ada empat indikator moderasi beragama yang harus terus dikampanyekan, yakni komitmen kebangsaan, toleransi, anti kekerasan serta akomodatif terhadap budaya lokal,” tandasnya.Dalam kesempatan tersebut, Nizar juga memaparkan pesan Menteri Agama tentang tiga kunci Semangat Kemenag Baru. Yaitu, menjadikan agama sebagai inspirasi, mempererat persaudaraan antar umat beragama, dan memperbaiki manajemen tata kelola pemerintahan.

Kami di Kementerian Agama tengah berupaya melakukan penguatan moderasi beragama, dengan empat indikator, yaitu: komitmen kebangsaan, toleransi, anti-kekerasan, dan ramah terhadap tradisi. Moderasi beragama bukanlah upaya memoderasikan agama, melainkan memoderasi pemahaman dan pengamalan kita dalam beragama. Saya berharap ASN, utamanya di Kementerian Agama, bisa menjadi pelopor dalam penguatan moderasi beragama. Saya mengajak para tokoh agama, akademisi, tokoh pemuda, dosen, guru, dan penyuluh agama, serta kalangan milenial untuk bersinergi dalam diseminasi dan gerakan meningkatkan toleransi antarumat melalui semua saluran. Sebab, perbedaan adalah fitrah.