Urgensi Literasi Nutrisi Terhadap Peningkatan Kualitas Masyarakat Indonesia Menuju Bonus Demografi

Indonesia merupakan negara yang di identifikasi akan menghadapi bonus demografi. Salah satu tolak ukur yang menjadikan suatu negara akan mengalami bonus demografi dilihat dari penurunan angka fertilitas dan angka kematian bayi. Dalam kurun waktu lima dasawarsa terakhir, Total Fertility Rate – TFR negara Indonesia mengalami depresiasi. Pada tahun 1971, angka TFR Indonesia menempati angka 6 yang berarti angka kelahiran dari masa reproduksi seorang wanita hitung panjangnya yakni 6 orang anak. Kemudian tahun 1999 sekitar 2,59, tahun 2012 sekitar 2,44, dan tahun 2017 sekitar 2,33. Selanjutnya mengenai angka kematian bayi atau yang disebut dengan Infant Mortality Rate – IMR juga mengalami penurunan. Pada tahun 1971, IMR Indonesia menempati angka 145 yang berarti 145 bayi dari 1000 bayi yang lahir akan meninggal sebelum genap satu tahun. Tahun 2012 sekitar 26 dan tahun 2017 menempati angka 25 anak. Depresiasi angka TFR dan IMR menjadi salah satu parameter suatu negara akan mengalami bonus demografi. Dan Indonesia disinyalir sedang menempuh masa transisi dalam menghadapi bonus demografi. [1]

Bonus demografi menjadi momentum meningkatkan produktivitas dan pertumbuhan ekonomi dengan memaksimalkan potensi masyarakat produktifnya. Inilah fase yang dinyatakan oleh Adioetomo sebagai window of opportunity, yakni jendela kesempatan bagi suatu negara untuk memanfaatkan jumlah masyarakat yang terbilang besar tersebut dengan rasio perbandinganya lebih besar usia produktif daripada nonproduktif.[2] Bonus demografi merupakan momentum Indonesia untuk menjadi negara hebat.

Disisi lain terdapat tantangan dan hambatan yang tengah dialami oleh bangsa Indonesia dalam menghadapi bonus demografi, diantaranya Indeks Pembangunan Manusia yang dimiliki oleh Indonesia masih tergolong rendah. Indonesia menempati posisi ke-6 dari 10 negara ASEAN dengan kualitas sumber daya manusia yang tergolong menengah kebawah yang artinya sdm kita belum mampu bersaing dengan negara lain.[3]  Kemudian melihat kondisi dari mayoritas masyarakat yang tergabung dalam usia produktif─generasi milenial.

Menurut McLuhan (1962) “inovasi dalam bidang teknologi informasi atau teknologi komunikasi memberi perubahan yang sangat besar terhadap kehidupan masyarakat”. Dengan kemajuan teknologi, masyarakat telah tereksploitasi dengan kemudahan dan kecanggihannya, baik dalam hal domestic maupun public. Perubahan gaya hidup mendorong masyarakat modern saat ini menjadi masyarakat yang cenderung konsumtif, Hal ini karena masyarakat membutuhkan kemudahan dalam segala aspek kehidupan dengan prinsip yang lebih praktis, sehingga dapat mempersingkat waktu dan tidak mengganggu pekerjaan.[4] Masyarakat modern terkhusus generasi milenial seperti halnya hewan yang terdomestikan oleh teknologi, segala aspek dalam kehidupan mereka dipengaruhi bahkan diadidaya oleh teknologi. [5]

Dalam memanfaatkan momentum bonus demografi untuk mencapai Indonesia sebagai negara hebat, tentunya langkah efektif yang harus dilakukan yakni penangan kualitas sdm yang terlibat langsung dengan hal tersebut yakni generasi milenial. Salah satu aspek yang harus diperhatikan dalam menjaga kualitas sdm generasi milenial, yakni dengan asupan nutrisi yang baik. Indonesia sebagai negara kedua di dunia yang memiliki keberagaman sumber pangan bergizi, namun tidak berbanding lurus dengan pola konsumsi yang dijalankan oleh masyarakatnya. Menurut World’s Most Literate Nations, Indonesia menempati posisi ke-60 dari 61 negara di dunia dengan tingkat literasi rendah, terkhusus literasi nutrisi yang dimiliki.[6]

Literasi nutrisi atau bisa juga disebut sebagai literasi kesehatan atau literasi gizi merupakan atribut yang melekat dan berdasar dari kemampuan literasi. Atau dapat juga didefinisikan sebagai suatu kondisi dinamis masyarakat yang terpengaruh oleh kondisi eksternal dirinya seperti petugas medis, institusi kesehatan, ebijakan pemerintah tentang keehatan dan budaya masyarakat. literasi nutrisi memiliki peran besar dalam mencapai keberhasilan pembangunan khusunya kesehatan di Indonesia jika pemetaan dilakukan dengan tepat sehingga antar dapat tercapai masyarakat yang sehat dan produktif.[7]

Karakter generasi milenial yang konsumtif, serta didorong dengan perkembangan teknologi yang kian meninabobokan penggunanya, serta rendahnya literasi nutrisi yang dimiliki masyarakat Indonesia, bukan hal utopis jika generasi milenial rendah kebutuhan gizinya. Untuk menanggulangi hal tersebut, perlu dilakukan gerakan literasi nutrisi secara kolektif dan masif baik dari pemerintah maupun segenap masyarakat. Hal tersebut perlu dilakukan untuk terwujudnya kualitas sdm yang baik untuk mengahadapi bonus demografi dikemudian hari. Tulisan ini akan mencoba untuk menguraikan tentang pentingnya literasi nutrisi dan kaitanya dengan momentum bonus demografi dalam rangka mencapai Indonesia hebat.

Makalah Karya tulis ilmiah ini merupakan jenis penelitian telaah literatur yang menggunakan pendekatan deskriptif-kualitatif. Desain penelitian dari telaah literatur adalah dengan melakukan kajian literatur sebanyak mungkin untuk menghasilkan berbagai hipotesis yang terjadi. Kemudian diselaraskan dengan variabel-variabel penelitian yang akan diteliti. Setelah itu baru sinkronisasi data dari berbagai literatur dengan pokok bahasan penelitian untuk menghasilkan kesimpulan yang diinginkan sesuai dengan tema penelitian.

Bonus demografi merupakan peluaang strategis yang harus dimanfaatkan dengan baik. Untuk bisa memanfaatkan bonus demografi dibutuhkan sumber daya manusia yang produktif dan berdaya saing. Namun saat ini kondisi kesehatan masyarakat Indonesia belum dapat dikatakan baik. Rendahnya tingkat literasi nutrisi merupakan faktor kuat yang menyebabkan hal ini terjadi. Maka utuk mampu memanfaatkan bonus demografi dengan baik demi mewujudkan Indonesia hebat sangat diperlukan peningkatan literasi nutrisi masyarakat Indonesia.

  1. Konsep Literasi Nutrisi

Literasi gizi, menurut The American Medical Association, adalah kemampuan membaca dan memahami dokumen terkait kesehatan, seperti resep obat, kartu kesehatan, dan jenis informasi kesehatan lainnya.[1] Literasi gizi, menurut Emiral. G et al., Mencakup tiga domain: perawatan kesehatan, pencegahan penyakit, dan promosi kesehatan.[2] Ketiga faktor tersebut sangat penting untuk mensosialisasikan generasi muda atau generasi milenial sejak dini. Masa muda adalah masa transisi dari bayi ke dewasa; Ini adalah periode perubahan fisik dan psikologis yang secara signifikan mempengaruhi perilaku, terutama perilaku kesehatan. Akibatnya, kaum muda mudah diyakinkan dan cenderung mengambil informasi tanpa memprosesnya secara kritis.[3] Mengingat keadaan ini, pendidikan memainkan peran penting dalam meningkatkan pemahaman generasi muda tentang literasi gizi; salah satu metode untuk melakukannya adalah melalui pendidikan jasmani, olahraga, dan kesehatan. Melek nutrisi merupakan komponen penting dari upaya untuk meningkatkan kesehatan. Strategi strategis Kementerian Kesehatan telah mendorong kesadaran masyarakat tentang literasi gizi. Kebudayaan memiliki pengaruh yang sangat besar terhadap bagaimana individu memahami pengertian tentang kesehatan. Budaya melek nutrisi akan memiliki konsekuensi untuk pendekatan pencegahan dan pengobatan yang bertentangan dengan kepercayaan para profesional perawatan Kesehatan.[4]

Bonus demografi merupakan peluang kemakuran ekonomi suatu negara. hal ini dikarenakan besarnya proporsi jumlah penduduk produktif (usia 15-64 tahun) dalam evolusi kependudukan dalam siklus se-abad sekali. peluang tersebut tidak dimanfaatkan dengan baik maka akan menjadi anti bonus yaitu badai bom (Bomb disaster). Demografi. saat ini indonesia sedang menuju bonus demografi dengan pertumbuhan yang meningkat dan penurunan angka kelahiran dalam jangka panjang.[5]

Manfaat bonus demografis dapat diperoleh jika suatu negara memiliki sumber daya berkualitas tinggi. Pertumbuhan ekonomi suatu negara dan pendapatan per kapita akan meningkat dengan ketersediaan sumber daya manusia yang berkualitas dan produktif. Selain memiliki sumber daya manusia yang tepat, lapangan kerja sangat penting untuk memaksimalkan keuntungan demografis, karena lapangan kerja yang cukup dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Tabungan keluarga yang meningkat juga berperan dalam penggunaan bonus demografis, karena tabungan keluarga yang bertambah memiliki kemampuan untuk membangun area perusahaan baru, sehingga memperluas prospek kerja.[6]

  1. Urgensi Nutrisi Literasi dalam Memanfaatkan Momentum Bonus Demografi

Berdasarkan definisi demografi di atas, bonus demografi merupakan momentum yang memberikan peluang bagi Indonesia untuk menjadi Indonesia yang hebat. Namun jika momentum ini tidak dimanfaatkan secara efektif maka akan berakibat fatal. Sektor kesehatan juga memberikan kontribusi yang signifikan dalam penyiapan penduduk untuk memasuki usia produktif. Individu dengan kesehatan prima akan lebih produktif. Akibatnya, proses pembentukan penduduk usia produktif yang sehat harus dimulai sejak dalam kandungan. Sebelum tahun 2000, angka kematian ibu dan bayi tetap cukup tinggi. Ini tidak diragukan lagi merupakan cerminan dari keadaan kesehatan masyarakat. Selain itu, malnutrisi (stunting) tetap menjadi masalah yang signifikan. Hingga tahun 2010, situasi ini terus berlanjut. Anak-anak yang kurang gizi tidak tumbuh secara optimal sehingga mengakibatkan produksi yang rendah. Kondisi ini berdampak signifikan terhadap pertumbuhan suatu negara, karena masyarakat yang tidak produktif menjadi beban negara.[7]

Populasi dalam kesehatan yang buruk selama tahun-tahun produktif tidak dapat mempertahankan output, sehingga menghambat kemajuan ekonomi suatu negara. Oleh karena itu, kesehatan sangat penting untuk mempertahankan penduduk usia produktif. Pemerintah dapat membantu mengatasi situasi ini dengan menerapkan langkah-langkah yang meningkatkan kesehatan masyarakat. Pola makan yang tepat sangat penting untuk perkembangan otak anak. Nutrisi yang tepat memungkinkan anak-anak untuk belajar dan mengembangkan kemampuan kritis. Pangan juga penting dalam mengembangkan generasi yang produktif dan sehat, karena makanan bergizi menyediakan energi, dorongan, dan kekuatan yang diperlukan untuk bermain dan mengembangkan kreativitas.[8]

Pertumbuhan ekonomi suatu negara akan terganggu jika penduduknya dalam kondisi kesehatan yang buruk pada usia produktif. Akibatnya, kesehatan sangat penting untuk mempertahankan populasi yang produktif. Pemerintah dapat membantu dalam menanggapi masalah ini dengan memberlakukan langkah-langkah yang mempromosikan kesehatan masyarakat. Pertumbuhan otak anak-anak tergantung pada pola makan yang tepat. Bantuan nutrisi yang tepat dalam pembelajaran dan pengembangan kemampuan kritis pada anak. Makanan juga penting dalam mengembangkan generasi yang kreatif dan sehat, karena makanan bergizi menyediakan energi, dorongan, dan kekuatan yang diperlukan untuk bermain dan kreativitas.

Berdasarkan pembahasan yang telah diuraikan diatas maka dapat ditarik kesimpulan bahwa Indonesia saat ini akan mengalami bonus demografi. Bonus demografi merupakan peluaang strategis yang harus dimanfaatkan dengan baik. Untuk bisa memanfaatkan bonus demografi dibutuhkan sumber daya manusia yang produktif dan berdaya saing. Namun saat ini kondisi kesehatan masyarakat Indonesia belum dapat dikatakan baik. Rendahnya tingkat literasi nutrisi merupakan faktor kuat yang menyebabkan hal ini terjadi. Maka utuk mampu memanfaatkan bonus demografi dengan baik demi mewujudkan Indonesia hebat sangat diperlukan peningkatan literasi nutrisi masyarakat Indonesia.

[1] Hadisiwi and Suminar, “Literasi Kesehatan Masyarakat Dalam Menopang Pembangunan Kesehatan Di Indonesia.”

[2] G Emiral et al., “Health Literacy Scale-European Union-Q16: A Validity and Reliability Study in Turkey,” Int. Res. J. Med. Sci 6 (2018): 2–7.

[3] Nani Pratiwi and Nola Pritanova, “Pengaruh Literasi Digital Terhadap Psikologis Anak Dan Remaja,” Semantik 6, no. 1 (2017): 11–24.

[4] Pratiwi and Pritanova, “Pengaruh Literasi Digital Terhadap Psikologis Anak Dan Remaja.”

[5] Deny Setiawan Sugiharto, “Pemanfaatan Bonus Demografi Melalui Peningkatan Indeks Pembangunan Manusia Di Sumtera,” Jurnal Pendidikan Ilmu-Ilmu Sosial 7, no. 1 (2015), https://doi.org/DOI: https://doi.org/10.24114/jupiis.v7i1.2268.g4468.

[6] Adioetomo, Bonus Demografi Menjelaskan Hubungan Antara Pertumbuhan Penduduk Dengan Pertumbuhan Ekonomi. (Jakarta: Pidato Pengukuhan Guru Besar Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, 2005).

[7] Dewi, Listyowati, and Napitupulu, “Bonus Demografi Di Indonesia: Suatu Anugerah Atau Petaka,” 17–23.

[8] Arif Sabta Aji and S Gz, “The Role of Nutrition in The Quality of Indonesian Human Resources Development,” n.d.

[1] MSi Dr. Ir. LILIS HERI MIS CICIH, “INFO DEMOGRAFI,” LD-FEB Universitas Indonesia, no. 2 (2019).

[2] Meiran Panggabean, “Studi Deskriptif Tidak Tercapainya Bonus Demografi Di Kabupaten Landak,” Jurnal Ekonomi Bisnis Dan Kewirausahaan 6, no. 1 (2017): 44, https://doi.org/10.26418/jebik.v6i1.20725.

[3] Nur Falikhah, “Bonus Demografi Peluang Dan Tantangan Bagi Indonesia,” Alhadharah: Jurnal Ilmu Dakwah 16, no. 32 (2017), https://doi.org/10.18592/alhadharah.v16i32.1992.

[4] Marshall McLuhan, “The Gutenberg Galaxy: The Making of Typographic Man,” Gingko Press., 1962.

[5] Yuval Noah Harari, Sapiens, ed. Damaring Tyas, 6th ed. (Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia, 2014).

[6] Mahendra Bungalan, “Literasi Gizi Indonesia Rendah,” Suaramerdeka,Com, 2018.

[7] Purwanti Hadisiwi and Jenny Ratna Suminar, “Literasi Kesehatan Masyarakat Dalam Menopang Pembangunan Kesehatan Di Indonesia,” Prosiding Komunikasi 1, no. 1 (2017).

http://slot.piipers.hemsida.eu/ http://slot-game.piipers.hemsida.eu/ https://publications.thapar.edu/plugins/slot88/ https://philparsons.co.uk/ https://omatsuri.co.jp/ http://room.eco.ku.ac.th/images/slot-deposit-pulsa/ https://chair.rmu.ac.th/media/images/link-gacor/ https://exams2.mehe.gov.lb/ https://mobileapp.iom.int/ https://uts.com.pk/slot-gacor-online/ https://devinscricao.uniritter.edu.br/ https://ilxl.ecs.fullerton.edu/wp-includes/ https://librarydirectory.dpi.wi.gov/ https://mctrans.ce.ufl.edu/wp-includes/assets/slot-gacor/ https://weatheraidev-trafficmanager.accuweather.com/ https://engineering.news.com.au/ https://weddinglovely.com/ http://situs-slot.piipers.hemsida.eu/ https://cmder.net/ http://judi-slot.piipers.hemsida.eu/ https://onokumus.com/ http://mycollab.com/ http://pg-slot.piipers.hemsida.eu/ http://slot-pulsa.piipers.hemsida.eu/ http://judi-slot-online.piipers.hemsida.eu/ https://mctrans.ce.ufl.edu/wp-includes/sitemaps/ http://judi-online.piipers.hemsida.eu/ https://shibboleth.csustan.edu/ http://slot-terpercaya.piipers.hemsida.eu/ http://slot-pragmatic.piipers.hemsida.eu/ http://data.withinwindows.com/ http://implbits.com/ http://ciudadanointeligente.org/ http://bocabit.elcomerciodigital.com/ https://onlineprd.uncg.edu/ https://piipers.hemsida.eu/ http://tesismapantropologia.izt.uam.mx/images/-/slot-gacor/ http://geografiahumana.izt.uam.mx/wp-includes/images/-/slot-gacor/ https://mctrans.ce.ufl.edu/wp-content/uploads/2022/slot-demo/ http://economiafinanciera.izt.uam.mx/wp-includes/sitemaps/-/situs-slot-online/ http://imaginariosyrepresentaciones.izt.uam.mx/wp-includes/images/media/slot-terbaik/ http://moeduniv.izt.uam.mx/wp-includes/Requests/slot/ http://www.coloquiodeadministracion.izt.uam.mx/wp-includes/css/slot-online/ http://slot-gacor.piipers.hemsida.eu/ https://ulakumina.unilever.com/ http://chipmeup.pokernews.com/ https://duedex.com/ https://vtuber.damonge.com/ http://pragmatic.piipers.hemsida.eu/ https://srollins.cs.usfca.edu/ https://vp.becode.org/ https://spotspot.wstone.io/ https://changelog.itrackbites.com/ http://2016.gopherconbr.org/ "http://situs-slot-online.piipers.hemsida.eu/ http://docs.aptana.com/ https://data.hudson.com/ http://schdt2.microsoft.com/ http://schom2.microsoft.com/ https://magento234.webkul.com/